Journal Asri

 



Beberapa bulan kebelakang, ada cukup banyak buku yang saya baca. Tapi salah satu nonfiksi yang masih nempel dan cukup memorable jujur ga banyak. Diantara yang tidak banyak itu, buku ini salah satunya. Can I Talk to You karya Kania Annisa Anggiani. 

Saya 'nemu' buku ini di Periplus Kota Baru Parahiyangan. Bukunya saya baca dalam waktu 2 mingguan. TIdak tipis tapi juga tidak terlalu tebal. Bukunya full berbahasa Inggris walaupun penulisnya orang Indonesia. 

Jadi bukunya tentang apa?
Bisa dibilang, genrenya buku ini adalah buku parenting, walaupun saya cukup setuju sama penutup dari penulisnya di bagian belakang buku, buku ini tuh lebih cocok dibilang jurnal, tapi karena jurnal-nya isinya percakapan penulis dan kedua anaknya, ga salah juga masuk rak parenting. 

Isi bukunya beneran percakapan penulis dengan Lula, anak perempuannya yang beranjak remaja, dan Galan, anak laki-lakinya yang sweet dan reflektif banget. Oh, buat konteks, Mba Kania dan keluarganya adalah keluarga diaspora yang tinggal di Singapura. 

Buku ini dibagi jadi beberapa bab dengan judul yang diambil dari percakapan-percakapan dengan anak-anaknya ini. Setiap bab akan diawali dengan percakapan, percakapan yang ringan sampai yang berat, tapi selalu ditambahkan dengan refleksi penulisnya tentang percakapan tersebut. 

Sebetulnya ada banyak buku parenting yang formatnya gini ya. Diawali dengan cerita di 'kehidupan' nyata seseorang, lalu sang penulis baru masuk ke teori-teori pengasuhan dan referensi ahli tentang teori tersebut. Tapiiii, karena ini adalah percakapan beneran penulis dengan anak-anaknya, somehow jadi berasa dekat sekali sama saya sebagai pembaca. 

Ada beberapa hal yang saya suka banget dari buku ini:
  1. Penulisnya ngajarin saya lagi tentang pentingnya jadi pendengar aktif ketika menjadi orang tua. 
    Dengan menuliskan buku ini aja tuh kan sebetulnya saya merasa Mba Kania sudah menjadi pendengar yang aktif ya, mau dengerin anak-anaknya. Jauh lebih sabar daripada saya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak yang ampun banget tidak terprediksi dan kadang gak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tapi ada satu part dimana penulisnya nanya ke anaknya, definisi orang tua yang baik tuh yang seperti apa, dan terbahas juga feedback dari anaknya supaya ketika anaknya sedang bicara, beneran dengerin, jangan pegang HP dulu. (Ahhh, aku merasa diingatkan banget, karena pada banyak kesempatan, sering banget ngobrol sama anak tapi mata masih balas-balasin WhatsApp). 
  2. Bukunya bikin saya mikir kalau: Sebanyak apapun mainan yang kita beli, buku yang kita miliki, sebagus apapun sekolah anak, semantap apapun itu semua, tetap yang paling dibutuhkan anak tuh waktu bersama orang tua.
    Menyediakan waktu-waktu berkualitas dan berharga sama anak tuh penting banget. Bisa dari yang paling sederhana di waktu pulang sekolah seperti keluarga Mba Kania, waktu menjelang tidur sambil baca buku, atau yang betul betul diagendakan setiap tahun, me time sama anak. Semuanya akan berharga banget baik buat anak, maupun bagi orang tua. Bonding kaya gini bakal kerasa banget pentingnya ketika (dalam kasus saya), anak tuh udah mulai berasa 'ngeyel' banget, gak kooperatif dan sulit diarahkan. Pasti ada waktu bonding yang kelewat lumayan waktu lama sampai itu bisa terjadi. 
  3. Jadi anak perempuan pertama di keluarga, terus punya anak pertama perempuan: punya challenge sendiri.
    Damn part ini tuh ditulis sama Mba Kania di akhir bukunya dan berhasil bikin saya nangis parah. Saya sering banget merasa saya jadi orang tua yang lumayan 'keras' ke anak perempuan pertama saya, baca refleksi penulis bikin saya ngeh kalau saya tuh kayanya punya sindrom anak perempuan pertama yang mana harus gesit, cepet, satset, problem solver, harus tegar, pinter, cekatan dan itu secara ga sadar saya harapkan juga dari Derana T.T, waktu baca bagian penulis merasa bully pertama anak pertamanya justru dari ibunya, huhu I can relate. Makanya nangis banget baca bagian yang ini. 
  4. Beberapa percakapan di buku ini adalah percakapan yang sangat mungkin ditanyakan anak di rumah.
    Gak lama setelah baca bagian Galan mau pindah agama Sintho karena suka Jepang, Derana sedang duduk di sebelah saya, bertanya "Boleh gak aku jadi kristen aja?" dan ketika ditanya jawabannya "Karena aku suka natal dan salju", duh langsung relevan dan bisa banget apa yang jadi jawaban Mba Kania jadi pengantar awal untuk diskusi terkait hal-hal berat di sama anak. 
Karena dibuat dalam format percakapan, buat saya bukunya gak berat. Tapi beberapa topiknya bikin saya berhenti dulu sejenak buat merefleksikan hubungan saya dengan anak. Secara keseluruhan, saya suka sekali bukunya! Suka banget formatnya, hard cover, covernya cantik! Tulisan Mba Kania juga, apik banget! 4,5/5. 






Pekan ini melelahkan sekali. Saya hampir gak punya waktu buat baca, gambar atau menulis saking lelahnya. Malam jam sembilan sudah tidur, pagi sudah kembali sibuk menyiapkan keperluan anak-anak dan langsung bekerja. Pekan ini juga harus commuting keluar kota beberapa kali. Sekali ke Serpong, sekali lagi ke Bogor. 

Dulu saya selalu gak suka perjalanan ke Serpong/BSD. Karena menuju kesana atau pulang dari sana tuh, jauh banget rasanya dan tidak tahan sekali bermacet-macetan di Jakarta, panjaaang sekali sampai akhirnya baru bebas macet ketika masuk tol layang MBZ. Tapi sekarang saya tim KRL + LRT + Whoosh sampai Cimahi. Perjalanan di KRL panjang sekali. Dari Rawa Buntu, turun di Tanah Abang, turun lagi di Manggarai, lalu pindah naik LRT di Cawang, sampai turun di Halim. Total biasanya satu jam. Tapi satu jam itu adalah satu jam yang jauh lebih baik dari pada macet di jalanan Jakarta. Kalau berangkat tapi saya masih lebih sering memilih naik Travel, karena mager pindah-pindah dan lebih sering tidur di jalan sampai ke BSD. 

Agak ngalor ngidul menceritakan perjalanan Commuting di Jabodetabek, soalnya saya agak bangga sama diri saya sendiri yang sekarang tidak lagi panik dan tidak nyasar di atas transportasi umum Jakarta. Walaupun justru kalau di Bandung tidak pernah naik transum (punten banget pilihannya terbatas). 

Masih ada akhir pekan kalau mau mengejar baca, gambar seru-seruan atau nulis atau tidur! Semoga bisaaa ya. Saya mau lanjut baca A Crane among Wolves, yang sepertinya seru. Tapi kepotong-potong terus bacanya sama pekerjaan yang masih lumayan dar der dor.  


Karya akhir pekan lalu: 

Gambar Tiger yang dipelajari dari buku: Drawing Class Animals karya Haegyum Kim, salah satu ilustrator favorit saya! 




Baru hari Kamis, tapi pekan ini begitu meriah.

Ketika membuat tulisan ini, menjelang tengah malam. Saya baru selesai menyelesaikan pekerjaan yang saya curi start lebih awal pengerjaannya agar besok pagi tidak terlalu rusuh. Saya mau mengantar anak-anak dengan tenang ke sekolah dan daycare besok.

Sejak kemarin, Saya dan Rana sakit. Saya masuk periode awal pilek, hidung tersumbat dan sakit kepala membuat semua terasa buruk. Rana demam dan badannya meriang. Hari ini harus istirahat di rumah dan tidak pergi ke sekolah. Sementara Itu Mas Har sibuk sekali mengurus dua pasien di rumah sambil harus tetap bekerja. (Sayang sekali Mas Har rasanya). 

Progres baca Senyap yang Lebih Nyaring

Sesuai rencana akhir pekan lalu, pekan ini saya membaca buku Senyap yang Lebih Nyaring karya Eka Kurniawan, yang mana seru sekali! Ada banyak sekali rekomendasi buku yang bikin penasaran, kebanyakan karya klasik, juga karya penulis Amerika Latin, juga sesekali penulis Asia, atau Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Oh Penulis Amerika juga ada. Jujur keinginan menggebu untuk membaca (yang artinya harus membeli) sangat tinggi. Tapi sebelum memutuskan untuk membeli buku-buku tersebut, saya mau fokus menyelesaikan baca buku Eka Kurniawan ini saja dulu. Karena yang sudah-sudah, membaca karya klasik, dan karya sastra, berat sekali buat saya. Butuh perjuangan. Walaupun ada beberapa yang cocok, tapi what so called Buku Sastra ini ampun sekali buat saya. Menyelesaikannya lama betul. Tapi ikhtiar untuk membacanya setidaknya dimulai dengan membeli buku-bukunya dulu. Sastra dunia yang terakhir saya baca dan saya cukup suka adalah Amuk, karya Stefan Zweig. Buku yang gila! Isinya orang-orang penuh obsesi tidak sehat haha, tapi intense sekali membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen tersebut. 

Buku June Hur baru 50 halaman saya baca. Sementara itu kumpulan puisi Mosab Abu Toha masih belum saya lanjutkan baca. Baca puisi butuh waktu yang lebih mindful dibanding baca fiksi atau kumpulan esai yang bisa saya lakukan dalam perjalanan bolak balik Bandung Jakarta. Saya belum menemukan serunya baca June Hur, tapi akan mencoba lanjut sampai 100 halaman baru memutuskan mau lanjut lagi, atau sudah saja. 

Selain membaca, saya senang pekan ini sempat menggambar lagi. Saya mencoba menggambar menggunakan oil pastel, soft pastel, menggunakan kembali pensil warna yang sempat disimpan dalam wadahnya karena saya sempat cemas melihat banyak sekali pensil yang saya miliki tapi tak pernah digunakan. 

Inspirasi gambar: Instagram @artpavo_illustration

Gambar yang saya coba buat untuk belajar, masih meniru dari gambar orang di Instagram, atau di Pinterest. Saya senang melihat proses mereka membuat gambar tersebut, biasanya dalam sebuah video singkat maupun lebih panjang di YouTube. Saya meniru gambarnya dan tekniknya. Berharap tentu semakin hari saya bisa juga menggambar tanpa lebih sering meniru. 

Gambar-gambar saya buat dengan yang tidak meniru tersimpan rapi juga di jurnal saya. Tahun ini saya menggunakan Hobonichi Techo dan Hobonichi Weeks. Keduanya masih berfungsi sebagai jurnal cerita dan catatan kerja di bulan-bulan awal. Belakangan lebih sering saya pakai untuk visual journal. Kertasnya Hobonichi juara betul! Saya suka sekali. 

Pekan ini saya juga membeli soft pastel dari Mungyo, agak bingung di awal karena ada dua versi soft pastel, tapi saya putuskan membeli versi MPA, dan terasa betul bedanya dengan soft pstel dari Lyra yang saya beli tahun lalu (dan sudah dijual kembali karena tak pernah terpakai). Soft Pastel Mungyo warnanya sangat vibrant, seperti oil pastelnya. Semoga bisa lebih banyak berkarya dengan si soft pastel ini. Amin!

Sepertinya cukup sekian cerita malam ini. Semoga akhir pekan nanti bisa melanjutkan bercerita.

Salam,

Asri



Bonus Picture

Gambar Derana di Procreate setelah dibacakan buku How to Make Friends with A Ghost karya Rebecca Green! How I love this book! Di Akhir hampir menangis membacanya, Rana juga suka ceritanya. Di awal takut, di akhir berakhir sayang sama si Hantu.







Pekan ini ingin mulai membaca atau melanjutkan baca ketiga buku ini. Mari kita lihat updatenya di akhir pekan depan ya apakah berhasil dibaca semua.

1. Senyap yang Lebih Nyaring - Eka Kurniawan

Akhir pekan ini saya mulai membaca buku ini. Kumpulan tulisan dari blog Eka Kurniawan. Isinya tentang buku! Seru deh bacanya, padahal baru sekitar 30 halaman saja tapi saya menikmati sekali. Lewat tulisan-tulisan di awal saja saya sudah dibikin penasaran membaca kisah seribu satu malam. Sesuai prediksi akan dapat banyak buku yang saya jadi penasaran ingin baca di sini. Bukunya juga mengingatkan saya pada kumpulan esai Dea Anugrah yang menuliskan judul-judul yang jadi masuk TBR. 

Gak sabar mau membaca lebih banyak seminggu kedepan. Mungkin akan lama bacanya, karena saya mau sambil catat dan coret-coret juga. Sebagai seseorang yang senang menuliskan ulasan bacaan di Blog, jelas buku ini akan jadi salah satu referensi untuk menulis ulasan yang bernas dan menyenangkan untuk dibaca. 

2. Things You May Find Hidden In My Ear - Mosab Abu Toha

 

D

“Dar means house. My grandparents left their house behind in 1948 near Yaffa beach. A tree my father told me about stood in the front yard.

Dreams of children and their parents, of listening to songs, or watching plays at Al-Mishal Cultural Center. Israel destroyed it in August 2018. I hate August. But plays are still performed in Gaza. Gaza is the stage.”

Excerpt From Things You May Find Hidden in My Ear Mosab Abu Toha

Buku ini saya pilih secara acak ketika sedang menghindari scrolling media sosial (akhir pekan bisa buka Instagram soalnya), lalu saya buka aplikasi baca dan menemukan buku ini. Ternyata buku ini pernah saya unduh secara gratis ketika akhir 2023 lalu Israel menyerang Gaza. Beberapa penerbit memberikan daftar buku yang dapat diunduh gratis, salah satunya buku ini. Saya baru membaca sekitar sepertiga isi buku puisi ini namun sesak sekali membacanya. 

Puisi pertama langsung jadi favorit. Judulnya Palestine A-Z, berisi prosa yang kata kuncinya dikembangkan berdasarkan abjad. Contohnya Abjad D diatas. Berkisah tentang Dar (rumah). 

Semoga bisa diselesaikan juga seminggu kedepan, karena saya juga biasanya lambat urusan membaca puisi. 


3. A Crane Amone Wolves - June Hur

Buku yang ini jadi pelengkap supaya tetap ada fiksi yang saya baca di pekan ini. Buku yang sempat saya dengar di sebuah klub buku. Tanggapan rekan-rekan saya positif sekali. Saya jadi penasaran. 

Kebetulan bukunya baru datang kemarin. Mau saya baca sebelum masuk ke perpus dan bisa dibaca orang lain juga. 







Satu nonfiksi, satu buku puisi dan satu Fiksi terjemahan. Semoga ketiganya menjadi bacaan yang menyenangkan.

 

Pekan kedua tanpa sosial media yang terlalu ramai. Hanya Instagram yang sesekali dibuka untuk keperluan bisnis, login akun pribadi hanya di hari libur. Kepala rasanya lebih tenang, tidak terlalu banyak informasi yang bertebaran. Memang betul kata sebuah kutipan dari Youtube yang saya tonton waktu mau mengurangi waktu depan layar. News can wait. Dulu saya seringkali takut ketinggalan berita-berita penting kalau tidak buka sosial media. Padahal berita tersebut juga hampir tidak ada yang ngaruh langsung ke saya, tapi bikin pusingnya ada banget. Tidak mengakses X, Threads, TikTok, Instagram yang jarang banget dipakai buat consuming content, rasanya Ya Ampun, kaya space yang biasanya berisik itu sekarang tenang sekali. 

Tapi prosesnya memang gak mudah, karena sudah jadi kebiasaan. Saya juga menyadari kalau kebiasaan scrolling gak semudah itu bisa dilepas. Makanya disubstitusi. Saya tetap pegang HP kalau sedang idle atau lagi bosan, tapi bukanya Kindle, Playbook atau Books. Aplikasi buat baca buku. Pengganti scrolling. Saya gak baca di eReader karena ribet (ujung-ujungnya nanti craving buat scrolling lagi), jadi langsung di HP. Alasan lainnya gak di eReader juga karena eReader saya jatuh ke kolong kasur sejak beberapa waktu lalu dan belum saya ambil sampai sekarang LOL. 

Karena punya waktu banyak buat baca, saya menamatkan beberapa buku dalam dua minggu ini. Senang sih! Terutama karena buku-buku ini TBR yang saya memang punya bukunya, tapi belum sempat baca karena hal lain. Terus selain baca saya juga jadi rajin gambar-gambar lagi. Kalau gambar biasanya malam, habis anak-anak tidur. Saya mulai mainan soft pastels, tools yang belum pernah benar-benar saya coba. Saya beli Derwent Pastels isi 72, tapi gak yakin kapan pernah benar-benar dipakai, kayanya sekali waktu beli terus nyerah karena susah dan hasilnya jelek. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kayanya karena kertasnya aja salah dan waktu itu coba gambar realis, yang mana pakai cat air (media yang saya PD pakenya) aja saya jelek banget gambarnya. Jadinya sekarang buat gambar-gambar landscape aja. 



Saya juga mulai gambar di iPad kalau bosan. Akhirnya beli procreate berasa manfaatnya ya :') dulu tuh 2022 saya beli iPad Mini niatnya buat gambar-gambar. 2026, empat tahun setelahnya, kehitung jari banget berapa gambar yang tercipta dari sana, dibandingkan misalnya empat tahun saya dan wacom intuos yang kalau pakai ribet banget harus nyalain laptop dulu. Memang ga selalu tools yang bagus bikin kita rajin berkarya. 

Akhir pekan ini rencananya mau ganti baca buku baru. 1 Fiksi dan 1 Nonfiksi. Buat Fiksi mau lanjut menyelesaikan The Secret of Secrets karya Dan Brown, kayanya saya sudah baca sekitar 70% bukunya, sedikit lagi selesai semoga bisa segera selesai dengan cepat juga amin. Buat buku nonfiksi, saya baru saja berli Senyap yang Lebih Nyaring, tulisan non-fiksi Eka Kurniawan dari blog-nya, dan kebanyakan adalah ulasan buku! Semangat banget saya bacanya. Baru baca pengantar dan salah satu tulisannya saja sudah merasa akan cocok dengan bukunya. Semoga ya semoga. 


Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Review Asri: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom
  • Main ke Toko Buku Pelagia (@tb.pelagia) Bandung
  • Sabtu yang Menyenangkan dan kenapa saya suka membeli bunga
  • Review Asri: Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye
  • Review Buku Angsa dan Kelelawar karya Keigo Higashino
  • Review Asri - Holy Mother karya Akiyoshi Rikako
  • The Perks of being a Wallflower
  • [Review Asri] Atomic Habits - James Clear
  • Review Asri: Lauk Daun karya Hartari; Cerita yang Dekat Dengan Warga Kampung Kota
  • Wisata Buku Bandung #2: Nimna Book Cafe

Arsip Blog

  • ▼  2026 (10)
    • ▼  Juli 2026 (1)
      • Review Asri - Can I Talk To You? by Kania Annisa A...
    • ►  April 2026 (4)
    • ►  Maret 2026 (3)
    • ►  Februari 2026 (2)
  • ►  2025 (25)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Juli 2025 (2)
    • ►  Juni 2025 (4)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (2)
    • ►  Maret 2025 (2)
    • ►  Februari 2025 (3)
    • ►  Januari 2025 (6)
  • ►  2024 (8)
    • ►  November 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
    • ►  Mei 2024 (2)
    • ►  April 2024 (3)
  • ►  2023 (17)
    • ►  November 2023 (1)
    • ►  September 2023 (1)
    • ►  Juli 2023 (4)
    • ►  Juni 2023 (4)
    • ►  Maret 2023 (2)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (3)
  • ►  2022 (52)
    • ►  Oktober 2022 (2)
    • ►  September 2022 (12)
    • ►  Agustus 2022 (2)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (4)
    • ►  Mei 2022 (9)
    • ►  April 2022 (7)
    • ►  Maret 2022 (5)
    • ►  Februari 2022 (6)
    • ►  Januari 2022 (3)
  • ►  2021 (35)
    • ►  Desember 2021 (5)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  Oktober 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  Agustus 2021 (3)
    • ►  Juli 2021 (2)
    • ►  Juni 2021 (1)
    • ►  Mei 2021 (3)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (2)
    • ►  Februari 2021 (6)
    • ►  Januari 2021 (6)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (3)
    • ►  Agustus 2020 (4)
    • ►  Juni 2020 (3)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  Agustus 2019 (2)
    • ►  Juli 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (3)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  Desember 2018 (4)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Juli 2018 (1)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (3)
    • ►  Maret 2018 (3)
    • ►  Januari 2018 (2)
  • ►  2017 (20)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  Agustus 2017 (4)
    • ►  Juli 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (3)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (65)
    • ►  Desember 2016 (2)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (3)
    • ►  Juli 2016 (17)
    • ►  Juni 2016 (7)
    • ►  Mei 2016 (7)
    • ►  April 2016 (25)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (29)
    • ►  Desember 2015 (3)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  Agustus 2015 (13)
    • ►  Juli 2015 (4)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (2)
    • ►  Februari 2015 (1)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (29)
    • ►  Desember 2014 (8)
    • ►  November 2014 (6)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  September 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (3)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Februari 2014 (6)
  • ►  2013 (66)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  Oktober 2013 (7)
    • ►  September 2013 (7)
    • ►  Agustus 2013 (15)
    • ►  Juli 2013 (4)
    • ►  Juni 2013 (8)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (5)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (9)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (4)
    • ►  Oktober 2012 (2)
  • ►  2011 (8)
    • ►  Oktober 2011 (4)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  Maret 2011 (3)

Goodreads

Asri's books

Kejutan Kungkang
it was amazing
Kejutan Kungkang
by Andina Subarja
The Fine Print
liked it
The Fine Print
by Lauren Asher
Under One Roof
liked it
Under One Roof
by Ali Hazelwood
Lessons from Surah Yusuf
it was amazing
Lessons from Surah Yusuf
by Abu Ammaar Yasir Qadhi
Setelah membaca ini sampai selesai malam ini. Jadi paham kenapa Allah bilang kalau Kisah Yusuf ini salah satu kisah terbaik dalam Quran. Ada terlalu banyak pelajaran berharga dari kisah Yusuf. Dr. Yasir Qadhi mengawali buku ini dg sebab...
No Exit
liked it
No Exit
by Taylor Adams

goodreads.com

Cari Blog Ini

Kamu pengunjung ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Journal Asri. Designed by OddThemes