Review Asri: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom

Halo semua! Selamat lebaran :) Mohon maaf lahir batin ya. Semoga kita semua bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan, amiiiin. 

Libur Lebaran 2025 ini saya membuka satu buku yang masih tersegel sejak akhir tahun lalu, alias belum dibuka dan dibaca sama sekali: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Kalau kamu cukup mengikuti buku-buku fiksi Indonesia, pasti pernah mendengar atau bahkan membaca buku ini :) Sebagian buku ini pernah muncul dalam bentuk tiga cerita pendek di Koran Tempo 2009 dan 2011 dan dalam buku kumpulan cerita pendek Rumah Kopi Singa Tertawa (2011). Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ini novel pertama penulisnya, terbit 2016 (sembilan tahun lalu LOL telat banget bacanya), dan mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016 kategori Prosa. 

Saya baru benar-benar tertarik membeli buku ini akhir tahun lalu ketika sedang mampir ke Solusi Buku Jogja, buku ini diterbitkan penerbit baNANA, punya saya di rumah Edisi ketiga, cetakan ketiga, Oktober 2020. Tebalnya 470 halaman dan harganya saya beli 140.000 dengan diskon 10% dari Solusi Buku. 

Setelah selesai baca buku ini, respon saya: KENAPA GAK BACA BUKU INI DARI DULU???? 

Hahahaha, karena bukunya super duper seru! 

Genre buku ini tuh Fiksi Fantasi bisa juga masuk ke fiksi sejarah/historical fiction, dan setelah sekian lama tidak membaca buku genre fantasi, aduuuuh senang sekali bisa membaca buku ini! Masuk ke list buku terbaik yang saya baca di 2025 deh pokoknya. 

Blurb

Buku ini mengisahkan petualangan Sungu Lembu yang menjalani hidup penuh dendam. Ia terlahir sebagai seorang Raden/anak laki-laki terpandang di sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pelabuhan/pesisir bernama Banjaran Waru, sejak Sungu Lembu lahir, Banjaran Waru tak lagi menjadi kerajaan atau tempat yang merdeka tapi merupakan tempat yang takluk pada kerajaan yang lebih besar: Gilingwesi. Sungu Lembu hidup mendendam pada Gilingwesi, terutama Rajanya. 

Garis hidup Sungu Lembu membawa dirinya bertemu dengan seorang pangeran dari Kerajaan Gilingwesi, tak tanggung-tanggung, salah satu anak laki-laki dari Raja Watugunung yang punya 27 anak: Raden Mandasia. Sungu Lembu bertemu Raden Mandasia di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Ia merasa Raden Mandasia adalah pembuka jalan bagi rencananya membalaskan dendamnya, sehingga ia menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan yang sulit menuju kerajaan Gerbang Agung. 

Berdua, mereka mengalami petualangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mulai dari melawan lanun di lautan, menyelamatkan pembawa wahyu, hingga bertemu dengan Loki Tua, juru masak menyebalkan super hebat yang mereka bebaskan dari perjanjian memasak Babi panggang seumur hidup. 

Apa yang saya suka dari buku ini? 

  • Buku ini ditulis dengan narasi yang mengalir banget, membuat saya sebagai pembaca terus menerus penasaran dengan kisah duo lakon utama dalam buku ini: Sungu Lembu dan Raden Mandasia. 
  • Berisi 13 bab yang jadi semacam 13 babak dalam buku ini, tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, sehingga gak ada bagian dalam buku ini yang terasa membosankan buat saya. Mulai dari cerita Sungu Lembu, sampai cerita mundur lagi yang jadi semacam hikayat Gilingwesi dan Raja Watugunung, sampai kisah tragis Dewi Sinta. 
  • Banyak bagian menarik dibikin lumayan detail di awal dan saya yakin pasti berkaitan dengan petualangan di kemudian hari: kemampuan Sungu Lembu dalam mengenali rasa dan racun, ini betul akhirnya terbukti di petualangan-petualangan berikutnya. Saya suka sekali bagian ini, sama sensasinya seperti membaca Jati Wesi, beda inderanya saja, aroma karsa dengan penciuman, Sungu Lembu dengan pengecapannya. Tapi proses ia berlatih yang diceritakan detail juga menarik. Setelah baca buku ini saya baru tahu kalau ada semacam spin off dari buku ini yang menceritakan Loki Tua, saya mau baca banget! ingin tahu proses Loki Tua belajar memasak dan mengenal rasa-rasa istimewa. 
  • Nyai Manggis! Saya suka sekali tokoh Nyai Manggis di buku ini. Perjalanan hidupnya tidak mudah, tapi ia jadi sosok perempuan yang berjuang untuk dirinya sendiri dan caranya membalas dendam juga ciamik. 
  • Endingnya! saya suka endingnya. Pembaca tidak dibuat penasaran dan digantung dengan kesimpulan yang harus disimpulkan sendiri. Aliaaas beneran seperti dongeng, ada awal, konflik cerita, resolusi hingga akhirnya gimana. 



Hikayat yang beragam dari masa yang berlainan

Di bagian belakang buku, tertulis: Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan--mungkin bersamaan. 

Nah ini yang paling seru sih buat saya, jadi membaca buku ini kamu akan menemukan hikayat-hikayat yang pasti kamu kenali, sebut saja di pembawa wahyu dan kisah ikan paus di kapal, atau kisah Dewi Sinta yang amat terkenal apalagi kalau kamu warga Jawa Barat seperti saya, yang tak kalah masyhur kisah pinokio, hingga Babad Tanah Jawa. Walaupun kisah-kisah mereka berasal dari masa yang berbeda, tapi penulisnya betulan benar bisa membuat semua terlihat berkesinambungan, sehingga membacanya tak mengganggu sama sekali. 


Sisanya saya suka sekali sebetulnya menebak nama tempat dalam dongeng tebal ini. Semacam tebak-tebakan, ini Kalapa tuh dimana ya kalau dari penjelasannya, Banjaran Waru dimana? Gilingwesi ini ibaratnya kerajaan apa? Gerbang Agung? sayangnya sampai sekarang saya belum ada waktu mencari tahu lebih lanjut referensi tempat-tempat ini merujuk kemana hehe dan kayanya gapapa gak tahu pun, tetap tidak mengurangi keseruan membacanya. 

Apa yang mengganggu dan mungkin perlu kamu perhatikan?

Buku ini ratingnya Dewasa! Buku dewasa kan punya sub lagi ya, ini dewasa 17+ atau 21+? Nah sayangnya tidak ada detail masuk kemana, tapi buat saya pribadi, ini masuk ke 17+. 

Apa yang membuat bukunya masuk ke kategori dewasa? 

  • Adegan aktivitas seksual yang digambarkan cukup eksplisit di beberapa halaman, saya tidak menghitung detail tapi ada lebih dari 3 kali adegan dewasa dalam buku ini yang mungkin perlu jadi perhatian kalau ada adik-adik belum 17+ yang baca ya!
  • Temanya yang cenderung harus agak 'mikir' walaupun disebut buku ini adalah buku dongeng. Buku ini akan mengisahkan sebuah perang besar dengan konflik di dalamnya yang membuat pembaca perlu pemahaman yang cukup matang tentang hal ini. 
  • Adegan pembunuhan atau kekerasan di buku ini, gak hanya ketika perang, tapi jauh sebelumnya, juga perlu diperhatikan kalau bisa ngetrigger kamu sebagai pembaca.
  • Kekerasan seksual yang terjadi pada beberapa tokoh perempuan di buku ini. Tokoh utama perempuan di buku ini banyak mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan, mulai dari 'disodorkan' untuk menemani orang-orang penting kerajaan, menjadi korban perkosaan sampai meninggal dunia, atau ya melanjutkan hidup dengan kondisi yang jauh dari ideal, hingga secuplik cerita tentang bagaimana prajurit perang memperlakukan para perempuan di daerah yang kalah. Ini tidak digambarkan seeksplisit aktivitas seksual pada poin satu yang memiliki consent satu sama lain. Tapi tetap saja buat kamu yang bisa ketrigger hal-hal ini, better be careful ketika baca. 

Lainnya yang buat saya cukup mengganggu adalah kebiasaan Sungu Lembu mengucap "Anjing" LOL, ini mungkin bukan hal yang mengganggu buat kebanyakan orang, tapi buat saya yang kebanyakan dengar kata ini diulang di kehidupan sehari-hari, justru membacanya lagi di sebuah karya yang bagus banget bikin saya jadi ga nyaman haha, mungkin saya akan lebih biasa aja kalau Sungu Lembu punya istilah umpatan lain.  

Oiya, satu lagi, ini gak mengganggu dalam artian besar, tapi penasaran kenapa judulnya malah menggunakan nama Raden Mandasia, yang justru kisah hidupnya tidak diceritakan sedetail cerita Sungu Lembu. Malah akan lebih masuk kalau judulnya menggunakan nama Sungu Lembu. Tapi mungkin penulisnya punya pertimbangan lain hehe.

Habis baca ini baca apa lagi?

1. Pengantin-pengantin Loki Tua

Saya penasaran sama semua buku-buku Yusi Avianto Pareanom setelah baca buku ini. Tapi yang paling bikin penasaran tentu Spin Off kisah Loki dalam buku Pengantin-Pengantin Loki Tua. Mau baca kalau nanti sudah punya bukunya haha! sekarang masih BBB gak beli bukuuuu untuk menyelesaikan antrian bacaan yang lain. 


Pengantin-pengantin Loki Tua, terbit 2023


2. Babad Tanah Jawi

Gara-gara dimention di akhir buku, saya jadi ingin baca ulang Babad Tanah Jawi yang saya punya di rumah. Yakin bakal menemukan hikayat-hikayat yang mirip dengan kisah di Raden Mandasia juga sih, jadi mungkin akan baca dalam waktu dekat.


Babad Tanah Jawi, buku yang disebut Sungu Lembu di akhir buku


Selain dua buku diatas, beberapa pembaca menyarankan buku Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa, buku yang sudah saya punya di rumah tapi belum selesai dibaca hehe, nanti coba kita selesaikan juga yak! 

Sekian catatan baca buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi! Semoga bisa bertemu buku seru lainnya dalam waktu dekat.

0 comments

leave yout comment here :)